PENGAJIAN PENCERAH

PENGAJIAN PENCERAH

TV MUHAMMADIYAH (ADiTV Jogja)

Untuk dapat menonton konten ini anda perlu menginstall flash player
# Langsung live dari Adi-TV Jogjakarta

Kamis, 02 April 2015

HUKUM ISLAM VS HUKUM JAHILIYAH

oleh : Abdul Hakim, MPdI (Wakil Ketua Lazismu Surabaya)

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.” (Q.S. An-Nisa’ 58).

Hukum adalah timbangan keadilan. Setiap manusia memiliki hak memperoleh perlakuan hukum secara adil dan transparan tanpa terikat oleh perbedaan suku, bangsa, status sosial, ekonomi, politik, bahkan agama. Melalui penegakan hukum diharapkan keadilan dapat diperoleh dan dinikmati setiap orang. Karena itu, ada dua prasarat yang harus dipenuhi dalam penegakan hukum. Pertama, sumber hukum. Hukum harus bersumber dari wahyu. Alquran adalah representasi wahyu yang diturunkan dari Alloh SwT, Al-Haq dan Al-Hakim. Dia-lah Dzat Yang Maha Benar lagi Maha Bijaksana. Alloh-lah yang berhak menentukan sistem hukum bagi makhluknya. “Menetap-kan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya, dan Dia pemberi keputusan yang paling baik". (Q.S. Al-An’am 57).

Hukum yang mengabaikan Al-Qur’an dan Hadits adalah hukum jahiliyah, fasid, rancu, dan menjadi sumber konflik kemanusiaan. “Apa-kah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?” (Q.S. Al-Maidah 50).

Rosululloh Muhammad SaW adalah figur representatif penuh teladan bagi penegakan hukum yang berkeadilan. Karena itu, hadits menjadi sumber hukum kedua setelah Alquran sebagai sumber hukum terbaik. Ijtihad juga bagian dari sumber hukum Islam. Karena itu, hukum yang bersumber dari hasil ijtihad selama tidak bertentangan dengan Alquran dan Hadits dapat ditetapkan melalui musyawarah penetapan hukum.

Seorang mukmin wajib mengimani dan tunduk pada hukum Islam sebagai sistem hukum terbaik yang menjamin keadilan, penuh rahmat, dan sangat manusiawi. Berkat hukum Islam kehormatan, keselamatan, kesejahteraan, keadilan, toleransi, dan kebahagian manusia mendapat jaminan pasti. Mengabaikan hukum Islam adalah kedzoliman. “Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.’ (Q.S. Al-Maidah 45).

KEADILAN UNTUK SEMUA

oleh ; Ustadz Syamsun Aly

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (Q.S. An-Nisa' : 58)

Setiap orang baik tua maupun muda, kaya atau miskin, pejabat tinggi atau rakyat rendahan, pasti mendamba adanya keadilan dalam hidupnya. Ia akan kecewa, protes bahkan melawan jika ada orang maupun kekuatan yang memperlakukan tidak adil (zhalim) pada dirinya.

Dampaknya bisa muncul berbagai kekacauan, permusuhan dan kehancuran di mana-mana, yang berakibat runtuhnya sebuah bangunan masyarakat beserta infra strukturnya yang dengan susah payah mereka bangun sebelumnya, dengan fikiran, tenaga dan biaya yang tidak murah.

Oleh sebab itu setelah Allah menciptakan manusia untuk menjadi pemimpin (khalifah) di bumi (QS. Al-Baqarah:30), juga diperintahkan untuk menjaga amanah yang dipercayakan kepadanya serta harus berlaku adil dalam menghakimi sesamanya (Q.S. An-Nisa':58), tanpa pandang bulu dan pilih kasih.

Para pendiri negara ini juga telah menetapkan landasan yang selaras dengan garis Allah dalam Q.S. An-Nisa': 58 di atas, dan dicantumkan dalam butir sila ke 5 dari dasar negara kita yakni “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Dengan maksud agar kehidupan rakyat Indonesia ke depan menjadi tenteram, aman, rukun dan makmur, karena mendapatkan keadilan yang sama dari pemimpinnya.

Rabu, 01 April 2015

SAATNYA ORANG TUA BERPERAN DALAM PENILAIAN DI SEKOLAH

oleh ; Ir Sudarusman (Kepala SMP Muhammadiyah 2 Surabaya)

Mungkinkah ada yang bertanya, apa perlu keterlibatan orang tua dalam memberikan penilaian pada saat ini, dimana guru dan sekolah mendapat kewenangan dalam menentukan lulus dan tidak lulusnya siswa di sekolah ? Jawabnya perlu. Sebab, pendidikan yang utama berada di dalam rumah.

Ujian Nasional (UN) tahun 2015 tidak memiliki kesaktian lagi, artinya tidak lagi menjadi penentu kelulusan siswa dari sebuah sekolah. UN hanya dipergunakan sebagai pemetaan mutu pendidikan dan seleksi masuk ke jenjang yang lebih tinggi. Kelulusan tahun ini sepenuhnya ditentukan oleh sekolah. Sekolah bisa menerapkan sistem kelulusan yang mengacu pada peraturan pemerintah, dengan nilai ujian sekolah (30-50%) dan nilai raport (50-70%).

Selama ini pelaksanan UN senanti-asa menimbulkan magnit yang luar biasa untuk dibicarakan. Mengapa? Karena ham-pir setiap pelaksanannya selalu senantiasa menimbulkan kontroversi permasalahan, sejak dari persoalan logistiknya hingga kebocoran soal. Tidak jarang sekolah atau daerah melakukan upaya melakukan pembocoran berkas, sehingga muncul berbagai kasus. Diantaranya peserta didik yang berpotensi nilai UN-nya jauh berada dibawah siswa yang tidak berpotensi, bahkan dinyatakan tidak lulus.

Tahun 2015, saatnya sekolah melalui dewan guru diberikan kepercayaan dan kewenangan sepenuhnya untuk menentukan kelulusan siswanya. Sangat tepat dengan UU Diknas yang menyatakan bahwah gurulah yang berwenang melakukan evaluasi belajar peserta didik, karena guru memiliki kompetensi teknik dan moral untuk melakukan hal itu. Guru memiliki kewenangan menggabungkan nilai Ujian Sekolah (US) dengan nilai raport yang materinya diperoleh melalui proses pembelajaran di sekolah tiga tahun sebelumnya, guna menentukan lulus dan tidaknya siswa di sekolah.

Mentalqin Mayit dan Memberi Nasehat di atas Kuburan

oleh : ustadz IMANAN

Pertanyaan:
Assalammu‘alaikum Wr. Wb. Ust. Mohon dijelaskan tentang  Apa hukum mentalqin mayit setelah dikuburkan dengan dibacakan di atas kubur ,misalnya: Man Imamuka, man Nabiyuka… dst, jika ada haditsnya bagaimana kedudukan hadits tersebut?  Apakah boleh memberikan ceramah atau nasehat serta berdoa di atas kuburan setelah selesai dikuburkan ? (Abdul Hamid pembaca Lazismu di Surabaya)

Jawaban: Wa’alaikumussalam  Warahmatullohi. Wabarakatuh..

Talqin di atas kuburan yang biasanya dilakukan setelah jenazah dikuburkan, dalam hal ini ada  yang berpendapat hukumnya dibolehkan, mereka berhujjah dengan hadits di bawah ini : Dari Dhamrah bin Habib, seorang tabiin, “Mereka (yaitu para shahabat yang beliau jumpai) menganjurkan jika kubur seorang mayit sudah diratakan dan para pengantar jenazah sudah bubar supaya dikatakan di dekat kuburnya, ‘Wahai fulan katakanlah laa ilaha illallah 3x. Wahai fulan, katakanlah ‘Tuhanku adalah Allah. Agamaku adalah Islam dan Nabiku adalah Muhammad” [Dalam Bulughul Maram no hadits 605, Ibnu Hajar mengatakan, “Diriwayatkan oleh Said bin Manshur secara mauquf (dinisbatkan kepada shahabat). Imam Ath Thabrani meriwayatkan hadits di atas dari Abu Umamah dengan redaksi yang panjang dan semisal riwayat Said bin Manshur namun secara marfu’ (dinisbatkan kepada Nabi)].

Diriwayatkan dari Abu Umamah al-Bahili r.a., dia berkata, "Jika aku meninggal, maka perlakukanlah diriku seperti apa yang diperintahkan Rasululloh saw. kepada kami dalam mengurus jenazah. Rasululloh saw. mengatakan kepada kami, "Jika salah seorang dari saudara kalian meninggal dunia, lalu kalian telah menimbunkan tanah di kuburnya, maka hendaklah salah satu dari kalian duduk bagian kepalanya dan berkata, "Wahai Fulan bin Fulanah." Mayat itu mendengar ucapannya tapi dia tidak menjawab. Lalu orang itu berkata lagi, "Wahai Fulan bin Fulanah." Mayat itu lalu duduk. Kemudian dia berkata lagi, "Wahai Fulan bin Fulanah." Mayat itu lalu berkata, "Berilah petunjuk pada kami, semoga Allah merahmatimu." Namun, kalian semua tidak akan merasakan hal itu. Kemudian hendaklah orang yang mentalkin itu mengatakan, "Ketika kamu meninggalkan dunia, ingatlah syahadat bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Dan bahwasanya kamu ridha menjadikan Allah sebagai tuhanmu, Islam sebagai agamamu, Muhammad sebagai nabimu dan Alquran sebagai pemimpinmu." Maka malaikat Munkar dan Nakir akan saling memegang tangan mereka dan berkata, "Marilah kita pergi. Untuk apa kita duduk pada orang yang telah diajarkan hujjahnya." Dan Allah menjadi hujjah baginya dari pertanyaan dua malaikat itu."

Lalu salah seorang sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana jika ibunya tidak diketahui?" Maka beliau pun menjawab, "Hendaknya dia menisbatkannya pada Hawa. Yaitu dengan mengatakan, "Wahai Fulan bin Hawa." (HR. Thabrani, Ibnu Syahin dan lainnya).

Selasa, 31 Maret 2015

KERJA YANG BERNILAI JIHAD


Pada pagi hari yang cerah, Rasulullah SAW berjalan bersama para sahabat. Waktu itu, mereka menyaksikan seorang pemuda membelah kayu penuh semangat. Kemudian seorang sahabat berkata, "Seandainya semangat itu digunakan untuk berjihad di jalan Allah..."

Rasulullah SAW yang mendengar perkataan sahabat, lantas bersabda, "Apabila keluarnya dia dalam rangka mencari nafkah untuk anaknya yang masih kecil, itu juga termasuk jihad fi sabilillah. Jika keluarnya dalam rangka mencari nafkah untuk orangtuanya yang tua, maka itu juga jihad fi sabilillah. Kalau pun keluarnya dia dalam rangka mencari nafkah untuk diri sendiri demi menjaga harga diri, maka itu juga termasuk jihad fi sabilillah. Tetapi, bila keluarnya dia disertai riya dan hura-hura, maka itu merupakan usaha di jalan setan." (HR Thabrani).

Hadist di atas memberi pesan kepada kita, bekerja merupakan aktivitas mulia yang patut dilakukan seluruh Muslim di mana pun berada. Sebab, di dalam Islam, bekerja berarti melakukan aktivitas bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Dengan bekerja, seorang Muslim akan memperoleh dan menghasilkan nilai tambah materi sehingga kebutuhan mereka terpenuhi. Tak heran, bila Nabi Muhammad SAW memasukkan pekerja atau pengusaha pada golongan orang yang melakukan jihad fi sabilillah.

Para pekerja, pedagang, pengusaha, dan profesi lain bila dari kedalaman hati berniat memberikan manfaat dari kerja yang dilakukan, posisinya sama dengan jihad. Apa pun profesi asalkan diperoleh dengan halal, pekerjaan itu merupakan bentuk ibadah yang besar pahalanya.

Senin, 30 Maret 2015

KISAH RASULULLAH SAW & PENGEMIS BUTA

video

Pembaca yang budiman, Baginda Rasulullah Muhammad SAW diutus kepada manusia untuk memuliakan akhlak. Salah satu teladan yang patut dicontoh adalah kasih sayangnya yang tiada batas. Seperti kisah masyhur tentang pengemis Yahudi buta yang selalu mencaci maki beliau. Setiap hari bila ada orang yang mendekatinya, pengemis itu selalu berkata, “Wahai, saudaraku, janganlah kau dekati Muhammad! Dia itu orang gila, pembohong, dan tukang sihir. Apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.” Padahal, setiap pagi hingga wafatnya, Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan. Tanpa berkata sepatah katapun, beliau menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis yang tak mengetahui identitas si pemberi makanan.

Setelah Rasulullah SAW wafat, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis tersebut. Suatu hari, sahabat Abu Bakar ra berkunjung ke rumah anaknya, Aisyah ra. Beliau bertanya kepada anaknya, “Anakku, adakah sunah kekasihku yang belum aku kerjakan?” Aisyah ra menjawab, “Wahai Ayah, engkau adalah seorang ahli sunah. Hampir tidak ada satu sunah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu hal. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana.”

Keesokan harinya, Abu Bakar pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu, sebagaimana yang biasa dilakukan Rasulullah SAW. Abu Bakar mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan kepadanya. Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya, si pengemis berteriak, “Siapakah kamu?” Abu Bakar menjawab, “Aku orang biasa.” “Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,” jawab pengemis buta itu. “Apabila ia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang, tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku. Tetapi, terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya. Setelah itu, ia berikan kepadaku dengan mulutnya sendiri,” pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abu Bakar tidak dapat menahan air matanya. Ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Orang yang mulia itu kini telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW”. Pengemis itu pun menangis dan kemudian berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya. Tetapi, ia tidak pernah memarahiku sedikit pun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Ia sungguh begitu mulia.” Pengemis Yahudi buta akhirnya bersyahadat di hadapan Abu Bakar. Begitulah energi kasih sayang yang tulus, dapat menggetarkan jiwa yang asalnya penuh kebencian berganti menjadi rasa kagum dan cinta.

Dalam keseharian, umat Islam selalu melafalkan kalimat yang terkait kasih sayang. Setiap untaian kalimat indah surah dalam Alquran satu bagian dengan bagian lainnya disambungkan dengan kalimat “bismillahirrahmanirrahim” kecuali pada surah at-Taubah. Mungkin, inilah nilai kandungan makna dari sifat Allah ar-Rahman yang Maha Kasih Sayang. Ketika kta berbuat seperti sifat Allah dengan penuh kasih sayang maka energi kasih sayang itu akan mengalir memasuki relung jiwa yang dikasihsayanginya. Energi kasih sayang itu pun menyebar luas saling memberi kebaikan bagi sesama.

Pembaca yang budiman, betapa sifat kasih sayang Allah yang demikian luasnya merupakan karunia nikmat yang tiada bisa manusia hitung. Sebagai bukti kecintaan Allah kepada manusia penebar kasih sayang meneladani sifat kasih sayang-Nya, kekasih dan utusan Allah, Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Sayangilah yang ada di muka bumi, niscaya engkau akan disayangi oleh siapa yang ada di langit.” (HR Ath-Thabroni dan Al Hakim). Bisakah kita meneladani kisah tersebut?

Selasa, 24 Maret 2015

PENGAJIAN PENCERAH MARET 2015 : 'KITA HARUS MENJAGA IKHLAS & SILATURRAHIM'


Ada dua hal yang harus selalu dijaga dan dibina oleh warga Muhammadiyah khususnya, dan umat Islam pada umumnya. Pertama adalah keikhlasan. Ikhlas itu perintah Alloh dalam Al-Qur’an Surat Al-Bayyinah ayat 5. “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Alloh, dengan ikhlas mentaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama, serta agar menegakkan sholat dan membayar zakat. Demikian itulah agama yang lurus.” Itulah sepenggal pembuka yang disampaikan oleh ustadz Drs. H. Baharuddin Rosyid (Wakil Ketua MUI Jember) dalam Kajian Ahad Pagi - Pengajian Pencerah - yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh dan LAZISMU kota Surabaya, pada hari ahad 22 Maret 2015 di Gedung Dakwah Muhammadiyah Surabaya.

Selanjutnya ustadz Baharuddin Rosyid, yang juga penasehat PDM Kab. Jember, menjelaskan bahwa ikhlas itu berarti menjauhkan ibadah dan amal dari riya’, sebab riya’ itu disebutkan dalam hadist sebagai syirik tersembunyi yang bisa merusak iman seorang muslim. Dengan hati yang ikhlas, kita beribadah karena Alloh semata, tanpa ada beban macam-macam. Karena itu orang yang ikhlas hidupnya akan selalu tenang, tenteram, sabar, senyumnya selalu mengembang dan tetap optimis dalam menghadapi berbagai kesulitan.

Ikhlas itu juga berarti seperti yang kita ikrarkan setiap waktu, “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Alloh Pemelihara semesta alam.” (Al-Quran Surat Al-An'am, ayat 162). Keikhlasan itu mutlak harus menjadi dasar amal, karena kita mengharap rahmat, barokah dan pahala tidak hanya di dunia, tetapi yang lebih penting pada kehidupan di akhirat nanti. Kalau hidup ini tidak ada keikhlasan, orang akan berbuat semaunya. Orang bahkan bisa malas, dengki, rakus, dan dendam, yang akhirnya akan mudah menghalalkan segala cara dalam mencapai sesuatu.

Jumat, 23 Januari 2015

AWAS KONSPIRASI JAHAT BARAT

Oleh Andi Hariyadi (Wakil Sekretaris PDM Surabaya)

Peradaban damai seringkali terkoyak oleh keangkuhan hingga memasuki wilayah yang sangat sensitif dalam aspek keagamaan. Nilai-nilai spiritual yang senantiasa dimuliakan dan dijunjung tinggi sekaligus diimplementasikan dalam aspek kehidupan sebagai bentuk ketaatan dan kepatuhan terhadap sang Kholiq dan Ra-sulNya telah dikoyak-koyak. Arogansi yang seharusnya redup sejalan dengan tinggi-nya kesadaran beragama, masih sering di-munculkan sehingga memicu ketegangan hingga konflik atas nama agama.

Kita senantiasa membangun keharmonisan hidup dan kerukunan peradaban, sehingga saling menghargai. Meski ada perbedaan keyakinan agama, tidak menghalangi untuk bisa hidup dengan penuh damai. Namun kita dikejutkan atas propaganda dan konspirasi jahat global yang melakukan penghinaan atas Nabi Muhammad SAW. Tragisnya, hal sangat sensitif seperti ini terus berulang.

Awalnya dipicu oleh majalah mingguan Charlie Hebdo, yang memuat cerita berseri berjudul “Hidup Muham-mad”. Cerita itu berbentuk kartun dengan gambar-gambar vulgar tanpa busana yang dikatakan sebagai Nabi Muhammad SAW. Lalu terjadilah penyerangan oleh beberapa orang bersenjata ke kantornya di Paris. Korban tewas pun berjatuhan akibat serangan itu, termasuk para kartunis dan pemimpin Redaksi Stephane Charbonnier Serta dua orang Polisi. Korban lainnya di antaranya adalah ekonom dan penulis Bernard Maris, yang merupakan tokoh senior bank sentral Perancis. Peristiwa ini dampak dari arogansi Barat.

Sudah menjadi budaya, dengan alasan kebebasan mereka bebas berbuat, berkarya dan bersuara, sehingga kebebas-an yang menjadi keyakinannya menyebab-kan mereka menjadi buta dan liar, serta menganggap selain komunitasnya adalah musuh yang membahayakan. Modernitas yang membawa mereka meraih kemak-muran ternyata berbuah keangkuhan. Menghina agama sudah dianggap biasa. Hal ini semakin menyadarkan kita, bahwa moral mereka telah berubah menjadi mo-dal, dimana orientasinya hanya untuk me-raih keuntungan materi sebesar-besarnya meski dengan cara yang menyakitkan, dan menghina nilai spiritual. Nilai-nilai kemanu-siaan mereka rusak parah karena terjajah oleh kecanggihan teknologi spektakuler.

Madzhab kebebasan Barat yang dibangun oleh kecurigaan dan permusuh-an khususnya terhadap Islam, semakin meyakinkan betapa rapuhnya landasan spiritual, sosial dan moral mereka. Mereka dilanda Islamofobia dan Islam dijadikan musuh bersama oleh para sekutu Barat, lebih-lebih maraknya aksi radikalisme da-lam Islam yang menjadi sorotan tajam. Pa-dahal radikalisme dunia Barat lebih tidak manusiawi dan jauh dari nilai kemanusia-an yang telah memporak-porandakan Iraq, Palestina, Afghanistan dan negeri lainnya. Terorisme, kolonialisme dan imperialisme sejatinya lahir dari rahim Barat yang men-jajah dan menindas serta menguras sum-ber daya negeri Muslim. Konspirasi jahat mereka melebihi aksi-aksi radikal yang se-ring muncul dalam berbagai media. Mere-ka sendiri melupakan kekejaman yang mereka lakukan dan justru menyebarkan fitnah bahwa Islam agama kekerasan.

Persinggungan antara Islam dan Barat, akhir-akhir ini membuat Barat keta-kutan terhadap Islam, sehingga mereka berupaya untuk memadamkan cahaya Islam dan terus melakukan pencitraan bu-ruk terhadap Islam. Meski dicitrakan nega-tif ternyata disisi lain sebagian masyarakat Barat mulai terbuka hati dan pikirannya terhadap Islam. Pertanyaan kritis seputar agama Islam, seperti apakah agama Islam itu identik dengan kekerasan, sehingga mereka yang kritis tersebut mulai mencari jawaban yang lebih rasional untuk meng-gali kebenaran, bukan kekaburan yang se-lama ini disebarkan. Dialog simpatik ini membuat mereka masuk Islam sebagai agama yang mencerahkan dengan penuh ketulusan. Lalu insan yang tercerahkan ini terus menyuarakan kebesaran agama Islam guna menangkal argumentasi dan propaganda negatif diberbagai media.

Pertumbuhan pemeluk agama Islam di Barat yang begitu besar, menjadi salah satu kegelisahan dan ketakutan mereka. Mereka khawatir kebebasan yang sudah mendarah daging akan lepas dari budaya mereka. Madzhab kebebasan Barat yang secara logika seharusnya bisa menerima kehadiran Islam baik di Eropa maupun di Amerika, ternyata berujung pada penghinaan dan penghujatan.

Minggu, 28 Desember 2014

MUHASABAH DI PANTI ASUHAN MUHAMMADIYAH PUTAT JAYA SAWAHAN


Semangat memberi, membantu dan menyantuni kepada kaum dhuafa dan anak-anak yatim senantiasa menjadi tekad dan komitmen segenap Pimpinan Panti Asuhan Muhammadiyah Putat Jaya di Cabang Sawahan Surabaya.

Pada akhir bulan Desember 2014 lalu Panti Asuhan Muhammadiyah Putat Jaya mengadakan kegiatan Muhasabah dan Refleksi di Masjid Ukhuwah yang ter-letak satu komplek dengan Panti. Kegiatan itu diisi dengan Pengajian dan silaturrahmi. Selain dihadiri oleh PCM Sawahan, PRM Putat Jaya, janda/lansia warga sekitar dan anak asuh (Panti dan Non Panti), acara ini juga dihadiri oleh 20 orang Wanita Harapan eks lokalisasi Putat Jaya binaan Pokja P2 Muhammadiyah Surabaya.

Dalam muhasabah tersebut pen-ceramah mengajak hadirin untuk berin-trospeksi dan mengevaluasi diri apakah ke-hidupan yang dijalani selama ini sudah be-rada di jalur yang benar atau belum. Jika belum tentu masih ada kesempatan untuk berubah menuju hidup yang lebih baik dan berbenah diri menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT serta me-ninggalkan segala yang dilarangNya.

Di akhir acara dilakukan penye-rahan santunan kepada Wanita Harapan eks Lokalisasi, anak yatim dan janda/lansia yang merupakan sumbangan dari para donatur dan Lazismu Surabaya. (Adit-RED).

MARI BERAMAL NYATA

MARI BERAMAL NYATA

LAZISMU Surabaya

LAZISMU Surabaya
Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shodaqoh Muhammadiyah Surabaya