PENGAJIAN PENCERAH

PENGAJIAN PENCERAH

MARI BERAMAL NYATA

MARI BERAMAL NYATA

TV MUHAMMADIYAH (ADiTV Jogja)

Untuk dapat menonton konten ini anda perlu menginstall flash player
# Langsung live dari Adi-TV Jogjakarta

Minggu, 09 November 2014

SANG PAHLAWAN PEMBEBAS DAN PEMBERDAYA

Oleh : Abdul Hakim, M.Pd.I
Pahlawan adalah siapa pun mereka yang telah berjasa bagi individu, komunitas, institusi, bangsa, dan negara. Jika definisi sederhana ini kita gunakan untuk menyebut sosok pahlawan, tentu banyak orang yang dapat kita sebut pahlawan. Siapa pun kita tentu bisa memberikan kontribusi bagi nilai-nilai kemanusiaan.

Pertama, pahlawan adalah mereka yang telah berjuang dan berkorban jiwa dan raga tanpa pamrih demi membela dan membebaskan tanah air dari penjajah atau kolonialis. Di negeri ini, kita mengenal sosok pahlawan. Di ataranya, Diponegoro , Imam Bonjol, Cut Nya' Dien, Kartini, Hasanuddin, Pattimura, Sukarno-Hatta, dan Jendral Sudirman. Tentu, termasuk pahlawan adalah beratus, beribu, bahkan berjuta lainnya yang telah gugur di medan laga, berjuang demi meraih atau mempertahankan kemerdekaan yang tidak tercatat di lembar buku sejarah. Dalam perspektif ini, sejarah telah mencatat para pejuang yang telah berkorban demi tegaknya Islam. Maka, kita mengenal pahlawan Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khondak, Perang Salib, dan mujahid lainnya. Di era modern, kita juga mengenal para syahid yang gugur demi kemerdekaan dan kedaulatan negerinya di Palestina, Afganistan, Irak, Kashmir yang gugur akibat kekejaman Zionis Israrel atau Barat dan Sekutunya.

Kedua, pahlawan adalah mereka yang telah berjasa di medan dakwah dan pendidikan demi kebangkitan Islam atau demi izzul Islam wal muslimin. Djamaluddin Al-Afgani, Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridho, yang telah menginspirasi K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah sebagai organisasi sosial-dakwah amar makrruf dan nahi munkar. Para pimpinan Muhammadiyah dan mereka yang terus berkomitmen mengemban visi dan misi organisasi tajdid dan pemberdaya umat ini, tentu layak disebut pahlawan.

Jumat, 07 November 2014

PENGUATAN SEMANGAT GERAKAN AL-MAUN DI TENGAH MASYARAKAT

oleh : Andi Hariyadi

Berdirinya Muhammadiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H yang bertepatan dengan tanggal 18 November 1912, di Yogyakarta yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan, merupakan tonggak sejarah bagi pencerahan dan pemberdayaan umat. Nah, Milad Muhammadiyah ke-105 pada tahun 1435 H atau ke 102 pada 2014 M, memiliki momentum yang sangat strategis, menjelang Muktamar Muhammadiyah di Makassar pada tanggal 3 - 7 Agustus 2016, serta merupakan even untuk penguatan kehidupan berbangsa dan bernegara, setelah usainya pemilihan Legislatif dan pemilihan Presiden periode 2014 - 2019.

Peran Muhammadiyah dalam melakukan dakwah Islam Amar Ma’ruf Nahi Munkar benar-benar sangat diharapkan, lebih-lebih ketika memasuki tahun 2015 nanti akan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Menghadapi MEA apakah kita sudah siap menghadapi pasar bebas itu menjadi pemain-pemain yang unggul dalam persaingan itu, ataukah malah kita sebagai penonton saja, sehingga terus terlibas oleh berbagai kekuatan ekonomi di negara-negara Asean. Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean 2015 tersebut bisa menjadi tantangan, peluang dan ancaman, bergantung kesiapan seluruh stake holder suatu negara. Indonesia harus mampu memanfaatkan momentum tersebut sebagai tantangan dan peluang dengan meningkatkan daya saing, dengan menjadi pemain bukan penonton.

Lebih dari seabad yang lalu, K.H. Ahmad Dahlan telah menunjukkan kepeduliannya terhadap nasib rakyat dan bangsa yang sedang terjajah. Penderitaan, kemiskinan, kebodohan dan ketidakadilan serta paham keagamaan yang terjebak pada Tahayul Bid'ah dan Churofat (TBC) benar-benar menjadi problem utama. Keterpurukan, keterlantaran dan terus tertindas bahkan perpecahan merupakan kenyataan yang sangat memprihatinkan, yang harus diberikan solusi dengan perjuangan dan perubahan yang mendasar. Jika kedaulatan dan kesejahteraan ingin diwujudkan, maka diperlukan perjuangan pencerdasan dengan jalan penguatan di bidang pendidikan.

Minggu, 02 November 2014

MENGGAGAS SERTIFIKASI ALA MUHAMMADIYAH

oleh : Ir Sudarusman

Kebijakan pemerintah perihal sertifi-kasi guru sangat berpengaruh ter-hadap perkembangan sekolah swasta, salah satunya Muhammadiyah. Beberapa waktu yang lalu, tepatnya bulan Juni 2013. Pertemuan Kepala Sekolah dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) bidang studi ISMUBA (al-Islam-KeMuhammadiyahan dan bahasa Arab), terdapat gagasan yang menarik tentang “Sertifikasi ala Muhammadiyah” (Sertifika-si Sosial Muhammadiyah). Gagasan itu pe-nulis munculkan sehubungan dengan ke-gelisahan guru bidang studi ISMUBA. Tidak sedikit keberadaannya tidak diakui, atau jam mengajarnya tidak diperhitungkan sebagai persyaratan yang tersertifikasi oleh Departemen Agama sebagai Guru Profesi.

Sertifikasi saat ini telah menjadi pembicaraan yang sangat hebat. Topik-to-pik yang berkembang di kalangan gurupun bertema sertifikasi. Apabila berbicara ser-tifikasi, maka semua menjadi terabaikan. Padahal sertifikasi adalah penunjang kuali-tas guru untuk mencerdaskan anak bang-sa. Tapi saat ini, sertifikasi mengalami de-gradasi tujuan, bukan sebagai penunjang kualitas, namun justru menjadi bumerang dalam tumbuh kembang sekolah.

Keberadaan sertifikasi di sekolah sangat tergantung dari berapa jumlah rombongan belajar yang terdapat di sebuah sekolah. Artinya jika sekolah tumbuh dan berkembang secara otomatis jumlah peserta didiknya akan turut berkembang dan hak guru mendapatkan sertifikasi di sekolah tersebut akan berkembang pula.

Kondisi itu dapat dilihat dari antusiasme guru saat mengurus persyaratan dan kelengkapan. Dimulai dengan adanya keberanian membuat data palsu, hingga meninggalkan tugas utamanya sebagai guru. Hampir setiap ada informasi perihal persyaratan sertifikasi, selalu timbul suasana sekolah yang kurang kondusif diantara guru, terutama dalam mensikapi persyaraatan yang diperlukan. Dimaklumkan karena yang dapat sertifikasi tidak semua guru, hanya yang pasti guru ISMUBA lebih kecil memiliki kesempatan untuk mendapatkannya.

Rabu, 29 Oktober 2014

MENUMBUHKAN GENERASI CINTA QUR'AN


Lomba-lomba yang diselenggarakan guna memeriahkan kegiatan Milad ke-105 Muhammadiyah dan juga peringatan tahun baru Islam, 1 Muharram 1436 H, bukan tanpa maksud dan tujuan. Dengan adanya lomba Qiro’ah, tahfidzul Qur’an, Da’i Cilik dan Sholat Jama’ah, me-nunjukkan bahwa insan pendidik Muham-madiyah di Surabaya serius dalam mem-persiapkan generasi mudanya untuk cinta terhadap al-Qur’an sebagai kitabullah dan pedoman hidupnya. Karena itu ajang unjuk prestasi ini merupakan momen yang tepat untuk lebih meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap al-Qur’an, yang tidak hanya dihapal dan dilantunkan, melainkan juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Ustadz Ismail Abbas, selaku Juri Lomba Tahfidzul Qur’an, rata-rata hapalan al-Qur’an pada juz ke-30 para peserta dari TPQ dan Perguruan Muhammadiyah sangat baik dan lancar. Hanya saja menurut catatannya, ada 1-2 peserta yang agak gugup dan kurang konsentrasi ketika dilihat orang banyak.

Ustadz Munahar, sebagai salah satu Juri Lomba Qiro’ah menyatakan bahwa potensi dan kemampuan para qari’ muda kita tidak perlu diragukan, namun ketrampilan mereka perlu ditingkatkan lagi dan harus lebih sering diasah dalam berbagai kesempatan. Oleh karena itu perlu pembinaan tambahan bagi para Juara agar nanti mereka dapat berprestasi di even lomba di tingkat eksternal.

Dalam hal lomba sholat jama’ah, menurut Ust. Abdul Hakim, selaku salah satu Juri, semangat para peserta cukup besar, namun masih banyak bacaan do’a sholat yang tidak seragam. Ke depan, menurut Abdul Hakim, Majelis Tarjih, Tabligh dan Dikdasmen harus duduk satu meja untuk menyusun tuntunan standar praktis sholat bagi para santri TPQ dan siswa Perguruan Muhammadiyah (SD, SMP, SMA dan SMK). Frekuensi lomba-lomba seperti ini juga perlu ditambah sehingga akan memacu prestasi cemerlang dari TPQ dan Perguruan Muhammadiyah, tambah Abdul Hakim.

Selasa, 28 Oktober 2014

MEMBANGUN GENERASI QUR'ANI

Kita tentu merasa bersyukur, bahagia, dan bangga ketika melihat anak-anak kita yang masih sangat muda belia hafal al-Qur’an, mampu melantunkannya secara merdu dan indah serta mensyiarkan isi yang terkandung di dalam al-Qur’an itu secara fasih, komunikatif, inspiratif dan mencerahkan. Kebanggaan dan kebahagiaan itu akan menjadi terasa sempurna manakala anak-anak kita itu mampu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT.

Sehubungan dengan itu dalam rangka Milad ke-105 Muhammadiyah, Lazismu dan LSBO (Lembaga Seni Budaya & Olahraga) PDM Surabaya pada hari Sabtu tanggal 1 Muharram 1436 atau 25 Oktober 2014 menyelenggarakan kegiatan GETAR CITA TAJDID. Kegiatan tersebut berupa aneka Lomba seperti Qiro’ah (tingkat anak dan remaja), Tahfidzul Qur’an (tingkat anak dan remaja), Da’i Cilik dan Sholat Berjama’ah (tingkat anak) yang diikuti oleh utusan dari 15 Taman Pendidikan al-Qur’an (TPQ) Masjid / Musholla Muhammadiyah dan 33 Perguruan Muhammadiyah (17-SD, 10-SMP, 4-SMA dan 2-SMK) se-Kota Surabaya.

Menurut Yusuf, Koordinator Lomba, untuk Lomba Qiro’ah diikuti oleh 53 peserta, tahfidzul Qur’an 98 peserta, Da’i Cilik 28 peserta dan Sholat Jama’ah 27 kelompok dengan 1 kelompok beranggotakan 5 orang. Total peserta lomba sebanyak 314 orang. Tentunya ini merupakan peningkatan jika dibanding dengan kegiatan serupa yang dilaksanakan tahun lalu, apalagi waktu pendaftarannya hanya 1 minggu, jelas Yusuf.

Memang, antusias para pelajar dan santri TPQ Muhammadiyah untuk mengikuti lomba seperti cukup besar sehingga pada hari itu suasana di Gedung Dakwah Muhammadiyah Surabaya cukup ramai dan meriah, ditambah dengan kegiatan Bazaar UKM dan Wirausahamuda.

Dalam sambutannya Ust. Syamsun Aly, selaku Ketua Lazismu Surabaya mengaku cukup bangga dengan animo peserta lomba. Beliau cukup yakin Muhammadiyah tidak akan kekurangan kader-kader qori’, hafidz qur’an dan da’i serta muballigh handal, karena kelak jika telah dewasa nanti para tunas muda ini akan tampil berdakwah di tengah-tengah masyarakat.

Minggu, 26 Oktober 2014

MENDAMBA GENERASI PENYEJUK HATI


Sabtu, 1 Muharrom 1436 H, bertepatan dengan tanggal 25 Oktober 2014 M diselenggarakan Seminar Parenting bertema “Membentuk Generasi Penyejuk Hati”. Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka Milad ke-105 Muhammadiyah ini diikuti oleh 115 peserta. Kebanyakan dari mereka adalah Kepala Sekolah dan Guru TK Aisyiyah se-Surabaya. Terhitung ada 80 peserta dari TK, 28 dari SD, SMP, dan umum, serta 7 dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan Aisyiyah Surabaya.
Forum Seminar Parenting ini diselenggarakan oleh Lazismu Kota Surabaya dengan Smart Character Indonesia (SCI) di Gedung Dakwah Muhammadiyah Surabaya. Tujuannya adalah untuk mensosialisasikan kepada masyarakat bagaimana pendidikan karakter itu ditanamkan sejak dini. Ada tiga narasumber yang menjadi pembicara. Najib Sulhan, M.A. menyampaikan tentang pola pengasuhan menurut al-Qur'an dan al-Hadist. Drs. Achmad Sudja'i menyampaikan materi kunci sukses dalam membentuk karakter anak. Sedangkan Ir. Sudarusman, menyampaikan tanggung jawab sekolah dalam melihat potensi anak. Bertindak sebagai moderator adalah Aksar Wiyono.

Pelaksanaan Seminar Parenting berjalan lancar dan cukup ‘gayeng’. Acara diawali dengan sambutan oleh Musa Abdullah selaku Ketua Panitia Milad ke 105 Muhammadiyah PDM Surabaya. Dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Lazismu Surabaya, Syamsun Ali, M.A., diakhiri dengan sambutan dari Drs. Zayyin Chudlori, M.Ag selaku Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya.

Ada empat model perilaku anak menurut pandangan al-Qur'an. Pertama, ada anak sebagai penyejuk hati bagi orang tua. Kedua, ada anak sebagai hiasan bagi orang tua. Ketiga, ada anak sebagai fitnah bagi orang tua. Keempat, anak sebagai, musuh bagi orang tua. Semua orang tua berharap anak yang menjadi penyejuk hati, namun faktanya perilaku anak-anak sekarang tidak sesuai dengan harapan. Berdasarkan berbagai penelitian, kasus narkoba, pornografi dan pornoaksi telah melanda anak dan remaja.

Kamis, 16 Oktober 2014

PARENTING SEMINAR FOR SMART PARENTS



Berbagai kasus kekerasan yang dialami oleh insan pendidik dan peserta didik atau siapa saja yang berkecimpung dalam dunia pendidikan memerlukan perhatian dan penanganan serius jika kita ingin membentuk generasi berkarakter unggul.. Penyelesaian sesaat bukanlah solusi, diperlukan langkah cerdas agar generasi kita tidak terjerembab dalam situasi sulit yang akan menjadi beban mereka dalam kehidupan di masa depan... Karena itu ikutilah... SEMINAR PARENTING.. Membentuk Generasi Penyejuk Hati, generasi yang mampu memberikan warna dan nuansa pencerahan untuk meraih cita-citanya.

Hadiri.. Seminar Parenting untuk Orang Tua Cerdas, Peduli dan Hebat! "Membentuk Generasi Penyejuk Hati".. Hari Sabtu 25 Oktober 2014 (Hari Libur; 1 Muharram 1436H), pk. 09.00WIB.. bersama Smart Character Indonesia.. di Hall Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jl. Sutorejo 73-77 Surabaya.. Pendaftaran di ruang Lazismu atau di Sekretariat PDM (Pak. Eko) 031-3824240 dan 031-81189500 atau email ke lazismusurabaya@yahoo.co.id.. Investasi Rp.100.000,- (Fasilitas: Snack, Sertifikat, Buku "Anakku Investasiku" dan alat tulis).. bisa ditransfer ke rekening Bank Syariah Mandiri 1850008495 atau CIMB Niaga Syariah 5250100187001 a/n LAZISMU / LAZIS Muhammadiyah Surabaya..

Rabu, 15 Oktober 2014

HIJRAH SEBENAR-BENARNYA

oleh : Abdul Hakim, M.Pd.I

Selain makhluk aqliyah (berakal), manusia adalah makhluk nafsiyah (bernafsu). Dengan akal sehatnya, manusia bisa mengidentifikasi nilai baik-buruk, halal-haram, benar-salah, perintah-larangan, atau pahala-dosa. Ketika Alquran menyatakan Islam adalah agama wahyu yang benar, sempurna, dan universal maka akal sehat membenarkannya. Ketika Al-Qur’an menyatakan berzina, korupsi, berjudi, atau daging babi itu haram, maka akal sehat menyambutnya dengan kalimat shodaqolloh dan sami’na wa atho’na. Jika pilihan akal ini diwujudkan dalam bentuk perilaku yang dilandasi iman, maka jadilah amal salih yang mendatangkan pahala. Berkat akal sehat yang dilandasi iman, manusia jadi jujur, tulus, cerdas, kreatif, konstruktif, dan inovatif. Akhlak manusia jadi terpuji dan mulia.

Tetapi dengan nafsu, manusia tidak mampu menentukan baik-buruk, salah-benar, halal-haram, suci atau najis, perintah atau larangan. Nafsu bukan hanya gelap dan buta, bahkan cenderung keji dan merusak. Tentu, itu nafsu yang tidak mendapat rahmat dan hidayat-Nya. Jika nafsu dominan, manusia bisa jadi liar, bahkan buas dan beringas.

Akibat nafsu, manusia mudah mengidap psikopat atau penyakit jiwa : sombong, riya, dengki, rakus, bakhil, jahil dan dusta. Al-Qur’an menyebut, manusia bisa lebih jelek dari binatang anjing, babi, kera, atau keledai. Manusia bahkan bisa menjadikan nafsu sebagai tuhan. “Terangkanlah kepada-Ku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan. Maka, apakah kamu dapat menjadi pelindung mereka? Atau, apakah kamu mengira kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya.” (Al-Qur’an Surat Al-Furqon ayat 43-44).

MAKMUM MASBUQ


Tanya Jawab Agama oleh Ust. Imanan

Assalamu'alaikum warahmatullohi wabarakatuh. Pak Ustadz, saya mau bertanya tentang makmum masbuq; Kapan Seorang Makmum itu disebut Masbuq ? Mohon penejelasannya Pak Ustadz. (Dari Abdul Karim pembaca Lazismu di Sidoarjo)

Wa'alaikumussalam warahmatullohi wabarakatuh. Terima kasih atas pertanyaan yang Saudara ajukan kepada kami. Terlebih dahulu kami jelaskan tentang pengertian Makmum Masbuq.

Pengertian Makmum Masbuq.
Secara etimologi (bahasa) Masbuq adalah isim maf'ul dari kata “سبق”  yang bermakna “terdahului / tertinggal”. Adapun secara terminology (istilah) Masbuq adalah Orang yang tertinggal sebagian raka'at atau semuanya dari imam dalam sholat berjama'ah. Atau orang yang mendapati imam setelah raka'at pertama atau lebih dalam sholat berjama'ah. (Kamus al-Muhith, Qawaid al-Fiqh dan Hasyiyah Ibnu 'Abidin, 1/400).

Dalam hal Makmum Masbuq ini, terdapat perbedaan pendapat. Dimana ada dua pendapat mengenai kapan seorang makmum itu disebut masbuq.

LAZISMU Surabaya

LAZISMU Surabaya
Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shodaqoh Muhammadiyah Surabaya